Mengenal Jembatan Cable Stay yang Dibangun di Ibu Kota Baru

45

Pemerintah melalui PT Hutama Karya (Persero) mempercepat salah satu infrastruktur pendukung Ibu Kota Negara baru yang paling krusial adalah Jembatan Pulau Balang. Proyek ini merupakan salah satu bagian dari Master Plan Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mewujudkan jalur Trans Kalimantan.

Jembatan ini akan menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara melintasi Teluk Balikpapan. Di mana progres pembangunan hingga saat ini mencapai 76,8%.

Melansir data dari Hutama Karya, Senin (4/5/2020), ini merupakan salah satu jembatan cable stay terpanjang di Indonesia. Di mana konstruksi jembatan Cable Stay sebetulnya sudah cukup lama dikenal di Indonesia mulai Jembatan Barelang di Batam (1992), Jembatan Siak 1 atau Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah di Provinsi Riau (2007), Jembatan Suramadu (2009) dan Jembatan Soekarno di Manado (2015).

Namun dalam 3 tahun belakangan ini, mulai banyak jembatan Cable Stay yang dibangun diberbagai penjuru tanah air, sebut saja Jembatan Teluk Kendari, Jembatan Alalak di Banjarmasin, dan Jembatan Pulau Balang di Balikpapan.

Sebagai catatan, dari segi desain, jembatan ini dapat dikatakan sebagai jembatan Cable Stay dengan dek beton terpanjang di Indonesia. Pada pekerjaan pondasi, digunakan peralatan bor dengan sistem reverse circulation drilling tipe airlift dan suction, untuk menyesuaikan dengan kondisi batuan dasar laut yang cukup keras.

Untuk pekerjaan pylon, digunakan sistem Climbing Formwork pada pylon P2 dan jumping formwork pada pylon P1. Pada dek jembatan, digunakan sistem Underslung Traveller Formwork untuk pengecoran dek, sementara pada Cable Stay digunakan sistem Dyna Grip dari Dywidag yang memiliki durabilitas dan kapasitas fatigue yang tinggi.

Jembatan Pulau Balang memiliki tinggi 29 meter dengan tipe Cable Stayed Bridge yaitu jembatan yang dibangun menggunakan kabel-kabel prategang berkekuatan tinggi untuk menahan beban jembatan. Terdapat dua pylon / tiang jembatan setinggi 116meter untuk menahan kabel-kabel tersebut dan 144 bore pile / tiang pancang sebagai penopang jembatan.

Tak tanggungtanggung, lebar jembatan ini adalah 22,4meter dengan 4 lajur serta dilengkapi dengan trotoar di samping kanan dan kiri. Untuk mendukung akses menuju jembatan tersebut, dibangun pula jalan sepanjang 1.969 meter. Jembatan Pulau Balang juga akan dilengkapi dengan teknologi Structural Health Monitoring System (SHMS) yang akan memantau kesehatan kesehatan struktur konstruksi jembatan.

Jika jembatan ini sudah 100% tersambung dan beroperasi secara penuh, maka konektivitas serta mobilitas orang dan barang di lintas selatan Kaliamantan akan semakin lancar. Jarak tempuh dari Balikpapan ke Penajam yang sebelumnya mencapai 5 jam melalui jalur laut akan jauh lebih singkat yaitu menjadi 1 jam saja lewat darat via Balikpapan – Kariangau – Jembatan Pulau Balang – Simpang Gersik – Penajam. Hal ini tentu akan memudahkan masyarakat umum dan pengusaha dalam melakukan perjalanan atau distribusi logistik.

Laman: 1 2

You might also like
close